Jumat, 17 Mei 2019

EKSKLUSI SOSIAL YANG TERJADI DI KABUPATEN TASIKMALAYA (KECAMATAN CIKALONG DAN SEKITARNYA)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
     Eksklusi sosial adalah proses dan keadaan yang mencegah individu atau kumpulan untuk berperanan sepenuhnya dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik dan dalam menyatakan hak yang berasal dari hubungan keterpinggiran dari kekuasaan (Beall & Piron, 2005; Pierson, 2002).

Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Salah satu aspek penting untuk mendukung Strategi Penanggulangan Kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Pengukuran kemiskinan yang dapat dipercaya dapat menjadi instrumen tangguh bagi pengambil kebijakan dalam memfokuskan perhatian pada kondisi hidup orang miskin. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi mereka.[1]

Dari kemiskinan ini dapat menyebabkan tidak adanya kesempatan pada masyarakat-masyarakat yang mengalami untuk turut ikut serta dalam kegiata-kegiatan seperti berpolitik, pendidikan formal maupun nonformal, ekonomi, dsb. Biasanya hal ini sering terjadi pada masyarakat pedesaan, karena masih rendahnya taraf kualitas kehidupan disana. Kemiskinan ini dapat menyingkirkan warga-warga desa, sehingga sulit untuk memperbaiki kehidupan sosialnya di masyarakat. Dan akhirnya terjadilah eksklusi sosial.

Di Provinsi Jawa Barat, memiliki jumlah penduduk sebanyak 48.037.600 jiwa atau sekitar 18,3% dari keseluruhan jumlah penduduk di Indonesia.[2] Merupakan provinsi dengan kepadatan penduduk nomor satu di Indonesia. Digalakannya pembangunan di Jawa Barat seperti pembangunan Bandara di Majalengka, pembangunan jalan Tol Bocimi di Bogor, pembangunan Tol Seroja di Soreang, pembangunan Tol Cipali, dan lain-lain menjadi pembangunan infrastruktur yang akan membangun perekonomian di Jawa Barat. Namun, dalam kenyataannya pada pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, BUMN, maupun pemerintah Jawa Barat sendiri belum sama sekali meningkatkan perekonomian di Jawa Barat ini dengan memperhatikan rakyat-rakyat yang masih tersingkirkan dalam kehidupan sosial ini.

Disini saya akan mencoba membahas eksklusi sosial yang terjadi di daerah Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, tiga daerah termiskin di Jawa Barat dalam hasil penelitian Badan Pusat Statistik tahun 2017 yaitu Tasikmalaya, Indramayu, dan Cirebon. Dengan memanfaatkan beberapa sumber yang terdapat dalam situs-situs terpercaya.

1.2. Rumusan Masalah

a.       Bagaimana eksklusi sosial di Tasikmalaya?

1.3. Tujuan

a.       Mengetahui eksklusi sosial di Tasikmalaya




[1] Sulthan Hanifa Nefertiti. 2018. Kemiskinan kabupaten/kota di Jawa Barat 2012-2017. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, Bandung. Hlm 1


                                                                                                                                                                   

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Eksklusi Sosial di Tasikmalaya
            Angka kemiskinan di Kabupaten Tasikmalaya terbilang tinggi. Tahun 2015 lalu kemiskinan Kabupaten Tasikmalaya berada di angka 11 persen. Padahal rata-rata tingkat kemiskinan di Jawa Barat sudah berada pada angka 9 persen.

Masih tingginya angka kemiskinan ini membuat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) merasa perlu melakukan kordinasi dengan berbagai elemen mulai tingkat Kecamatan hingga tingkat desa untuk merumuskan langkah stategis penanggulangan kemiskinan tahun 2016 hingga 2021.

            Tasikmalaya masuk wilayah dengan persentase desa miskin tertinggi di Jawa Barat. Akibatnya, Tasikmalaya menjadi sekian wilayah yang berpotensi mengalami rawan pangan. Kepala Badan Ketahanan Pangan Jabar, Dewi Sartika, menuturkan berdasarkan data 2011, Kota Tasikmalaya memang menempati posisi teratas wilayah yang paling banyak memiliki desa miskin tinggi dan memiliki desa 48 persen berpotensi rawan pangan tertinggi di Jawa Barat. Selain Kota Tasikmalaya, wilayah lain yang memiliki persentase tinggi adalah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dewi menuturkan dari 165 desa di kabupaten ini, 42 di antaranya berpotensi rawan pangan.[1]

            Salah satu kecamatan miskin yang sulit akses menuju lokasinya adalah kecamatan Cikalong. Secara geografis Kecamatan Cikalong terletak antara 107,00 – 107,30 BT dan 5,00 – 6,30 LS, terletak dibagian selatan Kota Tasikmalaya dengan jarak + 90 Km dan perjalanan mencapai 3 jam dan 200 Km dari Ibu Kota Provinsi Jawa barat.[2] Jauhnya lokasi Kecamatan Cikalong dari pusat Kota Tasikmalaya, membuat desa-desa yang berada di Kecamatan ini menjadi tertinggal dalam hal pendidikan dan ekonomi. Hal ini dapat kita ketahui dari banyaknya jumlah lulusan SLTA lebih kecil disbanding dengan jumlah lulusan SD. Sebanyak 16.627 jiwa warga Kecamatan Cikalong telah mengenyam sekolah dasar; 4.456 jiwa telah mengenyam sekolah menengah pertama; 2.717 jiwa telah mengenyam bangku sekolah menengah atas; dan 1000 jiwa telah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.[3] Rendahnya angka lulusan SLTA dan Perguruan Tinggi dibanding SD menandakan sulitnya warga desa di Kecamatan Cikalong untuk mendapatkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi, infrastruktur, dan akses yang terlalu jauh ke pusat Kota Tasikmalaya.

            Dengan jumlah penduduk warga Kecamatan Cikalong keseluruhannya adalah kurang lebih 63.000 jiwa dan yang masih usia produktif berjumlah kurang lebih 38.000 jiwa, didominasi kurang lebih 22.000 jiwa bermata pencaharian petani.[4] Indikator ini yang menjadi warga desa di Kecamatan Cikalong masuk dalam daftar desa miskin di Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Tasikmalaya masuk daftar daerah termiskin di Jawa Barat. Menjadikan daerah Kecamatan Cikalong bias dikatakan sebagai daerah yang tereksklusi sosialnya.

            Berpengaruhnya berbagai aspek sosial yang menjadikan daerah ini tereksklusi sosialnya, kurangnya sekolah-sekolah yang dibangun didaerah tersebut karena sulit juga akses menuju daerah ini. Menjadi terbelakang dalam hal pendidikan. Kurangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, tidak lepas dari perekonomian yang masih rendah didaerah ini. Daya saing ekonomi didaerah ini masih rendah, karena tidak ada infrastruktur yang benar-benar memadai.

            Dua daerah yang berada di kawasan pesisir selatan Kabupaten Tasikmalaya, Kecamatan Cipatujah dan Cikalong mendapatkan bantuan alokasi dana dari program pengentasan kemiskinan yang digulirkan Kementerian Sosial (Kemensos). Kedua wilayah ini, mendapatkan bantuan dalam berbagai bentuk. Pada tahun 2018, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya, Oki Zulkifli mengatakan Kemensos menargetkan bantuan tersebut bisa disalurkan kepada sekitar 83 kelompok yang terdiri dari 800 keluarga penerima manfaat bantuan di empat desa, antara lain Cikawungageung, Ciandum, Mandalajaya dan Kalapagenep. Masing-masing kelompok mendapatkan jatah bantuan sebesar Rp2,5 juta.[5]

            Selain bantuan uang, program ini juga memberikan stimulasi untuk mengurangi jumlah rumah tidak layak huni. Sebanyak 170 unit rumah, direncanakan bakal diperbaiki melalui anggaran program kementerian ini. Sebanyak 90 dari 170 RTLH di antaranya berada di Cipatujah, sedangkan 80 sisanya terdapat di Cikalong. Siasat lain untuk menanggulangi kemiskinan, pemerintah menjalankan program sarana lingkungan. Pemerintah memberikan kucuran dana Rp50 juta bagi setiap desa untuk digunakan membiayai berbagai kebutuhan sarana prasarana masyarakat desa.[6]

            Bantuan dana ini telah diklaim oleh pemerintah sebagai pengentas kemiskinan daerah-daerah yang tertinggal. Terbukti dengan program-program bantuan yang dilakukan oleh pemerintah telah mengurangi angka pengangguran dan warga desa di Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya telah terbantu dengan program dana bantuan desa ini. Perlunya digalakan pembangunan dan bantuan operasional sekolah juga untuk meningkatkan taraf pendidikan di pesisir selatan Kabupaten Tasikmalaya. Agar warga desa di Kecamatan Cikalong memiliki sumber daya manusia yang cukup dengan kebutuhan daerahnya saat ini. Agar daerah ini tidak mengalami eksklusi sosial.
                                                                                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar